<![CDATA[Terapi SEFT - Tentang Rokok]]>Fri, 11 Mar 2016 03:46:09 +0700Weebly<![CDATA[Menkes: Keren itu Orang yang Nggak Merokok!]]>Fri, 04 Jul 2014 07:12:04 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/menkes-keren-itu-orang-yang-nggak-merokokPicture
Perokok kini begitu mudahnya membeli rokok eceran di setiap tempat. Ini semua akibat harga rokok yang masih murah. Alhasil, jumlah perokok pemula cenderung meningkat secara signifikan. Belum lagi mengubah kebiasaan generasi muda untuk tidak merokok bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi banyak yang menganggap `perokok itu keren`.

"Dulu nggak merokok itu nggak keren. Sekarang keren loh nggak merokok," kata Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi saat acara peringatan `Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2014` di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (2/6/2014).



Selain itu, Nafsiah juga mengungkapkan kekecewaannya dalam penerapan peraturan tentang rokok yang dianggap hanya tulisan dalam kertas putih.

"PP 109 sepertinya masih sangat kurang dimengerti. Saya lihat masih banyak jual rokok ketengan di mana-mana. Di daerah, harga rokok diturunkan satu pak Rp 13 ribu, larangan tentang anak-anak yang menjual rokok juga masih dilanggar. Apakah PP ini hanya di atas kertas?," tegas Nafsiah.

Menkes menuturkan, PP 109 tahun 2012 bermaksud untuk melindungi rakyat agar semua orang tetap sehat di setiap usia. "Kami mengajak seluruh masyarakat untuk mensosialisasikan itu. Seperti peringatan bergambar pada kemasan rokok dengan harapan orang yang mau beli rokok bilang `Nggak jadi deh`. Apalagi perokok pemula."

"Perokok pemula di bawah 25 tahun meningkat. Berdasarkan Riskesdas 2013, perokok terbesar yaitu petani, nelayan dan buruh. Mereka perokok aktif 44,5 persen," ujarnya. 

sumber: Liputan6.com
]]>
<![CDATA[Rokok: Senjata untuk Taklukan Negara Berkembang]]>Fri, 04 Jul 2014 07:02:37 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/rokok-senjata-penakluk-negara-berkembangPicture
Rokok seperti halnya candu merupakan alat yang digunakan negara maju untuk menguasai negara berkembang. Indonesia saat ini menjadi sasaran empuk negara maju yang gencar menyerang melalui industri rokok.

Seperti yang diungkap Ketua Indonesia Tobacco Control, dr. Kartono Muhammad, rokok dan candu sesungguhnya tak berbeda. Keduanya menimbulkan ketergantungan dan berdampak buruk bagi kesehatan. Sejarah juga mencatat, rokok dan candu telah dijadikan senjata untuk menguasai negara lain.


Candu mengalaminya lebih dulu, lewat perang Inggris dan China pada perang candu tahun 1839-1842. Pada masa ini, Inggris dan sekutunya menekan China supaya mau menerima kiriman candu. Kejadian serupa dialami pada perang Vietnam dan Amerika Serikat, tahun 1955-1975. Perang dimenangkan Vietnam, setelah serdadu Amerika Serikat dibujuk menggunakan candu.

"Saat ini, kedudukan candu digantikan rokok. Lokasi perang juga berganti ke negara berkembang, misalnya Indonesia," kata Kartono pada peluncuran Road Map Pengendalian Produk Tembakau di Indonesia, Senin (24/6/2013) di Jakarta.

Negara berkembang, menurut Kartono, bukannya tak tahu bahaya merokok. Namun keuntungan investasi dan terbukanya lapangan kerja, menyebabkan industri rokok sulit dilawan.

"Padahal, menerima industri rokok sama saja membuka pintu untuk melemahkan generasi muda," ujarnya.

Konsumsi rokok, menurut Kartono, di negara-negara maju seperti Amerika telah dibatasi dan diatur secara ketat, antara lain lewat pelarangan iklan rokok dan peraturan dilarang merokok dalam keluarga. Akibatnya, produsen rokok 'melemparkan' produknya ke berbagai negara berkembang.

Di negara berkembang, rokok mendapat sambutan. Indonesia kini menempati peringkat empat dunia dengan jumlah perokok sekitar 61,4 juta. Rokok dikonsumsi berbagai kalangan ekonomi, maupun gender.

"Karena itu konsumsi rokok harus dilarang. Melalui road map saya harap pemangku kepentingan akan memiliki arah yang jelas," kata Kartono.

Pelarangan ketat rokok diharapkan dapat membuka peluang Indonesia, berada di peringkat sama dengan negara maju lainnya.

Jebakan middle income trap

Besarnya risiko akibat rokok juga diakui anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Ekonomi dan Lingkungan, Emil Salim. Menurutnya, rokok akan menyebabkan Indonesia terus masuk dalam middle income trap.

Jebakan negara berpenghasilan menengah ini mengindikasikan kesejahteraan orang Indonesia tidak kunjung setara dengan negara maju. Keadaan tersebut diakibatkan kinerja generasi muda yang tidak maksimal.

Kebiasaan merokok yang banyak dilakukan generasi muda menjadi penyebabnya. Sehingga, generasi muda mengalami ketergantungan dan mudah sakit. Akibatnya produktivitas dan kinerja generasi muda tidak masimal.

"Padahal dengan jumlah generasi muda yang terus meningkat, Indonesia berpeluang mengalahkan Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan. Namun karena rokok, semua bisa tinggal kenangan," kata Emil.

sumber : Kompas.com
]]>
<![CDATA[Fakta Mengejutkan Tentang Rokok!]]>Wed, 13 Nov 2013 16:07:33 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/fakta-mengejutkan-tentangrokok
Picture
Perhatikanlah fakta-fakta yang mengejutkan berikut tentang rokok dan perokok di Indonesia dan dunia:
  • Sejauh ini, tembakau berada pada peringkat utama penyebab kematian yang dapat dicegah di dunia. Tembakau menyebabkan satu dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia, dan mengakibatkan 5,4 juta kematian tahun 2006. Ini berarti rata-rata satu kematian setiap 6,5 detik. Kematian pada tahun 2020 akan mendekati dua kali jumlah kematian saat ini jika kebiasaan konsumsi rokok saat ini terus berlanjut. [1]
  • Diperkirakan, 900 juta (84 persen) perokok sedunia hidup di negara-negara berkembang atau transisi ekonomi termasuk di Indonesia. The Tobacco Atlas mencatat, ada lebih dari 10 juta batang rokok diisap setiap menit, tiap hari, di seluruh dunia oleh satu miliar laki-laki, dan 250 juta perempuan. Sebanyak 50 persen total konsumsi rokok dunia dimiliki China, Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan Indonesia. Bila kondisi ini berlanjut, jumlah total rokok yang dihisap tiap tahun adalah 9.000 triliun rokok pada tahun 2025. [1]

  • Di Asia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak jumlah perokok yang mencapai 146.860.000 jiwa. Namun, sampai saat ini Indonesia belum mempunyai Peraturan Perundangan untuk melarang anak merokok. Akibat tidak adanya aturan yang tegas, dalam penelitian di empat kota yaitu Bandung, Padang, Yogyakarta dan Malang pada tahun 2004, prevalensi perokok usia 5-9 tahun meningkat drastis dari 0,6 persen (tahun 1995) jadi 2,8 persen (2004). [1]
  • Peningkatan prevalensi merokok tertinggi berada pada interval usia 15-19 tahun dari 13,7 persen jadi 24,2 persen atau naik 77 persen dari tahun 1995. Menurut Survei Global Tembakau di Kalangan Remaja pada 1.490 murid SMP di Jakarta tahun 1999, terdapat 46,7 persen siswa yang pernah merokok dan 19 persen di antaranya mencoba sebelum usia 10 tahun. “Remaja umumnya mulai merokok di usia remaja awal atau SMP,” kata psikolog dari Fakultas Psikologi UI Dharmayati Utoyo Lubis. [1]
  • Sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp 20 ribu per hari–upah minimum regional untuk Jakarta sekitar Rp 38 ribu per hari. [2]
  • Perokok di Indonesia 70 persen diantaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. [3]
  • 12,9 persen budget keluarga miskin untuk rokok dan untuk orang kaya hanya sembilan persen. [3]
  • Mengutip dana Survei Ekonomi dan Kesehatan Nasional (Susenas), konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau di Indonesia menduduki ranking kedua (12,43 persen) setelah konsumsi beras (19.30 persen). “Ini aneh tatkala masyarakat kian prihatin karena harga bahan pokok naik, justru konsumen rokok kian banyak,” [3]
  • Orang miskin di Indonesia mengalokasikan uangnya untuk rokok pada urutan kedua setelah membeli beras. Mengeluarkan uangnya untuk rokok enam kali lebih penting dari pendidikan dan kesehatan. [3]
  • Pemilik perusahaan rokok PT Djarum, R. Budi Hartono, termasuk dalam 10 orang terkaya se-Asia Tenggara versi Majalah Forbes. Ia menempati posisi kesepuluh dengan total harta US$ 2,3 miliar, dalam daftar yang dikeluarkan Kamis (8/9/2005). [4]
  • Sekitar 50% penderita kanker paru tidak mengetahui bahwa asap rokok merupakan penyebab penyakitnya. [5]
  • Dari 12% anak-anak SD yang sudah diteliti pernah merasakan merokok dengan coba-coba. Kurang lebih setengahnya meneruskan kebiasaan merokok ini. [5]
  • Besaran cukai rokok di Indonesia dinilai masih terlalu rendah. Saat ini, besarnya cukai rokok 37 persen dari harga rokok. Bandingkan dengan India (72 persen), Thailand (63 persen), Jepang (61 persen). [6]
  • Sebanyak 1.172 orang di Indonesia meninggal setiap hari karena tembakau. [7]
  • 100 persen pecandu narkoba merupakan perokok. [8]
  • Perda DKI Jakarta No 2 Tahun 2005, Pasal 13 ayat 1: Tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan dilarang merokok. — Pelanggarnya diancam dengan sanksi pidana berupa denda maksimum Rp 50 juta, atau 6 bulan kurungan. Kenyataannya, Perda ini seperti dianggap tidak ada oleh perokok, dan pemerintah pun tidak tegas dalam menjalankannya.

Hmm, seandainya pemerintah dapat tegas menjalankan Perda di atas, mungkin hutang pemerintah akan langsung lunas dibayar para perokok… Selain itu tentunya akan mengurangi pencemaran udara, membuat masyarakat lebih sehat, mengurangi angka kemiskinan, dan mengurangi angka kriminalitas.

Di antara 16 fakta di atas, fakta mana yang paling mengejutkan untuk Anda? Kalau untuk saya, fakta nomor 5 yang paling mengejutkan. Saya jadi ingat kata-kata: tidak ada perokok yang terlalu miskin untuk membeli rokok. Tampaknya kata-kata itu ada benarnya. Mereka lebih memilih rokok dibandingkan kebutuhan pokok mereka lainnya


sumber: artikel thn 2008
Baca Juga:
Rokok Jadi Pembunuh Nomor 1 pada thn 2015
Penduduk Produktif Bakal Mlempem
1 Milyar Orang Meninggal akibat Rokok Pada abad 21Rokok vs Ekonomi: Mitos dan Fakta
]]>
<![CDATA[Abad 21, Satu Miliar Meninggal Akibat Rokok]]>Thu, 07 Nov 2013 11:51:49 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/abad-21-satu-miliar-meninggal-akibatrokok
Picture
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sebuah laporannya, Kamis (7/2), memperkirakan sekitar 1 miliar orang di seluruh dunia akan meninggal akibat rokok pada abad 21 jika pemerintah dan warga sipil tidak segera bertindak mengatasi epidemik penggunaan tembakau.

“Seratus juta kematian tercatat akibat tembakau pada abad ke 20 lalu. Jika tren ini terus berlanjut, akan ada kenaikan hingga satu miliar kematian pada abad ke-21. Bila tidak dikendalikan, kematian yang berkaitan dengan tembakau akan meningkat lebih dari delapan juta per tahunnya pada 2030, dan 80 persen dari kematian tersebut akan terjadi di negara-negara berkembang,” ungkap laporan yang disampaikan Director General WHO, Margaret Chan, dalam jumpa pers bersama dengan Walikota New York, Michael Bloomberg.

Angka tersebut merupakan hasil sebuah studi yang mengungkapkan data-data penting penggunaan serta kontrol tembakau di negera-negara yang mewakili lebih dari 99 persen populasi dunia. Riset juga merekomendasikan perlunya penerapan enam strategi berlapis untuk memerangi epidemik tersebut.

Enam strategi ini adalah memantau penggunaan tembakau dan kebijakan pencegahannya, melindungi masyarakat dari rokok, menawarkan bantuan untuk berhenti menggunakan tembakau, memperingati akan bahaya tembakau, menerapkan larangan bagi promosi dan iklan produk tembakau, serta menaikkan pajak produk tembakau

“Selagi upaya memerangi tembakau mendapatkan momentumnya, secara virtual seluruh negara harus lebih berperan. Ada enam strategi yang dapat diterapkan setiap negara dan ketika dikombinasikan menjadi seuatu paket, maka semua itu akan memberi kita kesempatan terbaik untuk membalikkan epidemik yang berkembang ini,” ungkap Chan.
Laporan WHO juga mencatat bahwa penggunaan tembakau telah berkembang dengan sangat cepat di negara-negara berpendapatan rendah. Dengan pertumbuhan populasi tetap, negara-negara ini menjadi sasaran industri tembakau, sehingga jutaan orang setiap tahunnya menjadi pecandu. Dikatakan pula dalam laporan itu, hampir dua pertiga dari perokok di dunia tinggal di 10 negara : yakni China ( 30 persen), India (10 persen), Indonesia, Rusia, Amerika Serikat, Jepang, Brazil, Bangladesh, Jerman dan Turki.

Laporan itu juga mencatat, hanya lima persen dari populasi dunia terlidung oleh undang-undang nasional anti-rokok yang komprehensif. Sedangkan setengah populasi lainnya — dua pertiganya hidup di negara berkembang — bahkan tidak memiliki data minimal tentang penggunaan tembakau.

“Di banyak negara, penggunan tembakau lebih tinggi di antara warga miskin daripada yang kaya. Dan yang miskin lebih menderita akibat konsekuensi penyakit yang berkaitan dengan tembakau sehingga menimbulkan penderitaan secara ekonomi dan mengabadikan siklus kemelaratan dan penyakit,” kata laporan itu

Menurut data, oenggunaan tembakau saat ini telah menyebabkan dunia mengeluarkan biaya ratusan miliar dolar AS setiap tahunnya. Di negara AS sendiri, kerugian ekonominya diperkirakan mencapai sekitar 92 milar dolar AS per tahun.
]]>
<![CDATA[Di Amerika, Rokok makin tak populer]]>Thu, 07 Nov 2013 11:38:29 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/november-07th-2013
Picture
Indonesia saat ini dilabeli surga bagi perokok. Tapi bisa jadi, seiring bergulirnya waktu, Indonesia akan seperti negara maju pada umumnya yang kini punya tradisi baru: merokok kian tak populer. Pertengahan Juli hingga awal Agustus lalu, wartawan detikcom dan dua wartawan dari media nasional lainnya diundang Deplu AS untuk bertamu ke negeri Paman Sam. Ada 5 kota yang dikunjungi dan itu berarti berganti ke 5 hotel.

Satu hal yang sama tentang hotel-hotel itu adalah tulisan larangan merokok di kamar, yang diletakkan di dekat lampu atau meja di kamar hotel. Penghuni kamar yang nekat merokok, bisa ketahuan dari bau asap atau pun kerusakan pada furnitur di hotel, akan kena sanksi.

Di Washington DC, detikcom dkk menginap di Hotel Double Tree yang tergabung dalam kelompok Hotel Hilton. Penghuni kamar yang ditengarai melanggar aturan merokok terancam sanksi denda 250 dolar (Rp 2,3 juta) atau seharga kamar hotel itu satu malam.

Denda pada kisaran yang sama atau lebih tinggi juga diberlakukan di empat hotel lainnya tempat kami menginap yaitu di kota Indianapolis (negara bagian Indiana), Orlando (Florida), Minot (North Dakota) dan Portland (Oregon).
Sebelum berangkat ke AS, Kedubes AS di Jakarta memberi kami buklet yang berisi panduan perjalanan ke ‘negeri impian’ itu. Misalnya bagaimana naik angkutan umum, tarif taksi, dsb. Aturan merokok juga tak ketinggalan.

Disebutkan bahwa merokok kian tak populer di negeri adidaya itu. Banyak warga yang meninggalkan rokok. Semua restoran dan perkantoran juga melarang pegawai atau pengunjungnya merokok. Disarankan juga tidak merokok saat bertamu ke rumah orang. Kalau merokok, ya harus keluar ruangan, berdiri di pinggir jalan.

Bar yang biasanya surga kebal-kebul perokok, juga telah membatasi diri. Saat mampir di sebuah bar penuh lukisan di Minot, North Dakota, bar itu memasang tanda larangan merokok. Jadi pelanggan bar itu harus berpuas diri dengan minum-minum dan ngobrol sembari makan kacang.

Di sejumlah tempat, meski alam terbuka luas, tetap saja dilarang merokok. Misalnya saja di Kebon Binatang Washington DC.

Hal yang luar biasa juga ditemukan di kampus Indiana University-Purdue University Indianapolis (IUPUI). Di sini, di dalam gedung maupun di luar gedung (alam terbuka) merokok haram hukumnya. Aturan yang ketat soal merokok ini membuat udara di kota-kota itu bebas dari polusi, selain emisi kendaraan yang terkontrol sempurna.

Di sana, tak perlu lembaga MUI untuk melarang merokok. Cukup kesadaran dari diri sendiri bahwa merokok merusak kesehatan dan memperpendek umur. Cita-cita yang insya Allah akan terwujud di Indonesia.
]]>
<![CDATA[Rokok vs Ekonomi: Mitos dan Fakta]]>Thu, 07 Nov 2013 10:05:33 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/rokok-vs-ekonomi-mitos-danfakta
Picture
Mitos:
Industri rokok memberikan kontribusi pemasukan negara dengan jumlah besar.

Fakta:

Negara membayar biaya lebih besar untuk rokok dibanding dengan pemasukan yang diterimanya dari industri rokok. Penelitian dari World Bank telah membuktikan bahwa rokok merupakan kerugian mutlak bagi hampir seluruh negara. Pemasukan yang diterima negara dari industri rokok (pajak dan sebagainya) mungkin saja berjumlah besar, tapi kerugian langsung dan tidak langsung yang disebabkan konsumsi rokok jauh lebih besar.

Biaya tinggi harus dikeluarkan untuk membayar biaya penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh rokok, absen dari bekerja, hilangnya produktifitas dan pemasukan, kematian prematur, dan juga membuat orang menjadi miskin lebih lama karena mereka menghabiskan uangnya untuk membeli rokok.

Biaya besar lainnya yang tidak mudah untuk dijabarkan termasuk berkurangnya kualitas hidup para perokok dan mereka yang menjadi perokok pasif. Selain itu penderitaan juga bagi mereka yang harus kehilangan orang yang dicintainya karena merokok. Semua ini merupakan biaya tinggi yang harus ditanggung.

Mitos:
Mengurangi konsumsi rokok merupakan isu yang hanya bisa diatasi oleh negara-negara kaya.

Fakta:

Sekarang ini kurang lebih 80% perokok hidup di negara berkembang dan angka ini sudah tumbuh pesat dalam beberapa dekade saja. Diperkirakan pada tahun 2020, 70% dari seluruh kematian yang disebabkan rokok akan terjadi di negara-negara berkembang, naik dari tingkatan sekarang ini yaitu 50%. Ini berarti dalam beberapa dekade yang akan datang negara-negara berkembang akan berhadapan dengan biaya yang semakin tinggi untuk membiayai perawatan kesehatan para perokok dan hilangnya produktifitas.

Mitos:
Pengaturan yang lebih ketat terhadap industri rokok akan berakibat hilangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau dan pabrik rokok.

Fakta:

Prediksi mengindikasikan dengan jelas bahwa konsumsi rokok global akan meningkat dalam tiga dekade ke depan, walau dengan penerapan pengaturan tembakau di seluruh dunia. Memang dengan berkurangnya konsumsi rokok, maka suatu saat akan mengakibatkan berkurangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau. Tapi ini terjadi dalam hitungan dekade, bukan semalam. Oleh karenanya pemerintah akan mempunyai banyak kesempatan untuk merencanakan peralihan yang berkesinambungan dan teratur.
Para ekonom independent yang sudah mempelajari klaim industri rokok, berkesimpulan bahwa industri rokok sangat membesar-besarkan potensi kehilangan pekerjaan dari pengaturan rokok yang lebih ketat. Di banyak negara produksi rokok hanyalah bagian kecil dari ekonomi mereka. Penelitian yang dilakukan oleh World Bank mendemonstrasikan bahwa pada umumnya negara tidak akan mendapatkan pengangguran baru bila konsumsi rokok dikurangi. Beberapa negara malah akan memperoleh keuntungan baru karena konsumen rokok akan mengalokasikan uangnya untuk membeli barang dan jasa lainnya. Hal ini tentunya akan membuka kesempatan untuk terciptanya lapangan kerja baru.

Mitos:
Pemerintah akan kehilangan pendapatan jika mereka menaikan pajak terhadap industri rokok karena makin sedikit orang yang akan membeli rokok.

Fakta:

Bukti sudah jelas: perhitungan menunjukkan bahwa pajak yang tinggi memang akan menurunkan konsumsi rokok tetapi tidak mengurangi pendapatan pemerintah, malah sebaliknya. Ini bisa terjadi karena jumlah turunnya konsumen rokok tidak sebanding dengan besaran kenaikan pajak. Konsumen yang sudah kecanduan rokok biasanya akan lambat menanggapi kenaikan harga (akan tetap membeli). Lebih jauh, jumlah uang yang disimpan oleh mereka yang berhenti merokok akan digunakan untuk membeli barang-barang lain (pemerintah akan tetap menerima pemasukan). Pengalaman mengatakan bahwa menaikan pajak rokok, betapapun tingginya, tidak pernah menyebabkan berkurangnya pendapatan pemerintah.

Mitos:
Pajak rokok yang tinggi akan menyebabkan penyelundupan.

Fakta:

Industri rokok sering beragumentasi bahwa pajak yang tinggi akan mendorong penyelundupan rokok dari negara dengan pajak rokok yang lebih rendah, yang ujungnya akan membuat konsumsi rokok lebih tinggi dan mengurangi pendapatan pemerintah.
Walaupun penyelundupan merupakan hal yang serius, laporan Bank Dunia tahun 1999 Curbing the Epidemic tetap menyimpulkan bahwa pajak rokok yang tinggi akan menekan konsumsi rokok serta menaikan pendapatan pemerintah. Langkah yang tepat bagi pemerintah adalah memerangi kejahatan dan bukannya mengorbankan kenaikan pajak pada rokok.
Selain itu ada klaim-klaim yang mengatakan bahwa industri rokok juga terlibat dalam penyelundupan rokok. Klaim seperti ini patut disikapi dengan serius.

Mitos:
Kecanduan rokok sudah sedemikian tinggi, menaikan pajak rokok tidak akan mengurangi permintaan rokok. Oleh karenanya menaikan pajak rokok tidak perlu.

Fakta:

Menaikan pajak rokok akan mengurangi jumlah perokok dan mengurangi kematian yang disebabkan oleh rokok. Kenaikan harga rokok akan membuat sejumlah perokok untuk berhenti dan mencegah lainnya untuk menjadi perokok atau mencegah lainnya menjadi perokok tetap. Kenaikan pajak rokok juga akan mengurangi jumlah orang yang kembali merokok dan mengurangi konsumsi rokok pada orang-orang yang masih merokok. Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang sensitif terhadap kenaikan harga rokok oleh karenanya mereka akan mengurangi pembelian rokok bila pajak rokok dinaikan.
Selain itu orang-orang dengan pendapat rendah juga lebih sensitif terhadap kenaikan harga, oleh karenanya kenaikan pajak rokok akan berpengaruh besar terhadap pembelian rokok di negara-negara berkembang.
Model yang dikembangkan oleh Bank Dunia dalam laporannya Curbing the Epidemic menunjukan kenaikan kenaikan harga rokok sebanyak 10% karena naiknya pajak rokok, akan membuat 40 juta orang yang hidup di tahun 1995 untuk berhenti merokok dan mencegah sedikitnya 10 juta kematian akibat rokok.

Mitos:
Pemerintah tidak perlu menaikan pajak rokok karena akan kenaikan tersebut akan merugikan konsumer berpendapatan rendah.

Fakta:

Perusahaan rokok beragumen bahwa harga rokok tidak seharusnya dinaikan karena bila begitu akan merugikan konsumen berpendapatan rendah. Tetapi, penelitian menunjukkan bahwa masyarakat berpendapatan rendah merupakan korban rokok yang paling dirugikan. Karena rokok akan memperberat beban kehidupan, meningkatkan kematian, menaikan biaya perawatan kesehatan yang harus mereka tanggung dan gaji yang terbuang untuk membeli rokok.
Masyarakat berpendapatan rendah paling bisa diuntungkan oleh harga rokok yang mahal karena akan membuat mereka lebih mudah berhenti merokok, mengurangi, atau menghindari kecanduan rokok karena makin terbatasnya kemampuan mereka untuk membeli. Keuntungan lain dari pajak rokok yang tinggi adalah bisa digunakan untuk program-program kesejahteraan masyarakat miskin.

Mitos:
Perokok menanggung sendiri beban biaya dari merokok.

Fakta:

Perokok membenani yang bukan perokok. Bukti-bukti biaya yang harus ditanggung bukan perokok seperti biaya kesehatan, gangguan, dan iritasi yang didapatkan dari asap rokok.

Ulasan di negara-negara kaya mengungkapkan bahwa perokok membebani asuransi kesehatan lebih besar daripada mereka yang tidak merokok (walaupun usia perokok biasanya lebih pendek). Apabila asuransi kesehatan dibayar oleh rakyat (seperti jamsostek) maka para perokok tentunya ikut membebankan biaya akibat merokok kepada orang lain juga.
]]>
<![CDATA[Lobi Politik Industri Rokok]]>Thu, 07 Nov 2013 09:25:58 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/lobi-politik-industrirokok
Picture
Ketika DPR yang salah satu fungsi utamanya melahirkan undang-undang demi kemaslahatan publik justru menghadirkan undang-undang yang mematikan publik, itu adalah kejahatan yang amat fundamental. Sebuah pengkhianatan nurani yang dahsyat. Sama dengan guru yang ternyata melakukan kejahatan pengajaran. Atau wasit yang mencurangi pertandingan. (Editorial Media Indonesia)

Jadi jangan heran, kenapa Rokok sampai sekarang sulit diberantas, jangankan rokok, Narkoba yang merupakan salah satu dampak dari kebiasaan merokok saat ini makin menggila. Melihat fakta ini, kita harusnya tidak melulu menyalahkan pemerintah, karena saya yakin pemerintah punya itikad baik untuk menghentikan peredaran RACUN YANG DILEGALKAN ini. Pemimpin yang visioner tentu tidak akan mengorbankan harga diri dan martabat bangsanya demi membela sebuah Industri mental tempe seperti Industri Rokok yang geliatnya semakin menjadi-jadi dengan berkedok beasiswa,bantuan sosial,mengurangi jumlah pengangguran,dan berbagai macam trik konyol yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang waras.

Mafia DPR merupakan sasaran empuk para industri rokok untuk tidak meloloskan undang-undang pengendalian tembakau seperti yang telah diterapkan oleh negara-negara maju dan berkembang selain Indonesia. Sebagian dari Omzet Industri rokok yang menggiurkan cukup untuk mengunci mulut para mafia DPR untuk tidak meloloskan undang-undang pengendalian tembakau.

Tidak hanya wakil rakyat, rakyat jelata sampai orang berada juga memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar karena mereka dengan sengaja akibat sudah kecanduan zat adiktif rokok yang tidak ada bedanya seperti orang kecanduan narkoba mengkampanyekan budaya merokok kepada generasi penerus bangsa. Bahkan, di era informasi ini bukan hanya lelaki namun wanita seperti dianggap sudah lazim jika ada yang merokok. Barusan saya melihat tayangan salah seorang ahli hipnotis Indonesia yang menghipnotis seorang remaja tanggung gadis yang dihipnotis disaksikan oleh ibunya sendiri, sang ahli hipnotis ini bertanya apa saja kelakuan nakal yang pernah dilakukan lalu gadis ini menjawab, dia pernah merokok bersama teman-teman wanitanya. Bayangkan, betapa hancur dan sakitnya perasaan seorang Ibu mendengar kelakuan anaknya yang tak pernah diperkirakan sebelumnya. Ini semata-mata bukan karena ulah si anak, tapi juga pengaruh lingkungan sekitarnya yang sudah menganggap seorang gadis merokok itu sudah biasa.


Para perokok memiliki peran yang sangat besar bagi perubahan tata nilai suatu bangsa, apakah bangsa tersebut akan makmur atau sengsara. Dan para wakil rakyat dan pemerintah yang berkuasa sebagai pengambil kebijakan lebih besar tanggung jawabnya daripada rakyat biasa karena mereka penentu kebijakan. Celakalah orang-orang yang mengkhianati bangsanya sendiri dengan membuat bangsanya semakin terpuruk akibat kebiasaan merokok yang sangat buruk ini dan Beruntunglah orang-orang yang membela kepentingan bangsa dengan memperjuangkan keadilan dan hak masyarakat untuk memperoleh udara segar dan bebas dari asap Racun Rokok.

Berikut adalah ulasan Media Indonesia yang sangat menggigit tentang bagaimana Industri Racun Rokok tanpa lelah melakukan lobi-lobi politik dengan mafia DPR untuk membela kepentingan bisnisnya :

Ayat Tembakau Skandal Amat Serius

SEBUAH skandal legislasi terungkap di akhir masa kerja Dewan Perwakilan Rakyat periode 2004-2009. Undang-Undang Kesehatan yang disahkan melalui rapat pleno yang tidak bergairah pada 14 September 2009 ternyata menyisakan masalah. Sebuah ayat, yang sesungguhnya ada dan telah disetujui dalam Rapat Paripurna DPR, raib.

Ayat yang lenyap ternyata menyangkut tembakau. DPR dalam rapat paripurnanya mengesahkan Undang-Undang Kesehatan lengkap dengan ayat tembakau yang begitu penting itu. Namun, ayat tersebut lenyap ketika naskah undang-undang itu diterima Setneg.

Penghilangan ayat tembakau dari Undang-Undang Kesehatan sesungguhnya bukanlah sebuah skandal biasa. Itu adalah kejahatan sangat serius. Karena itu, tidak boleh publik menerimanya sebagai hanya kesalahan teknis seperti yang diungkapkan dengan enteng oleh para petinggi DPR.

Negara dan aparaturnya harus menyelidiki kasus itu sebagai sebuah kejahatan berat. Karena penghilangan ayat tembakau berdampak sangat luas kepada kesehatan publik.

Bila yang dihilangkan adalah ayat tentang tembakau, adalah sangat wajar untuk mengatakan penghilangan itu bukanlah sebuah kebetulan. Karena tembakau, termasuk rokok, sedang berperang dengan kecenderungan global yang semakin kuat bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan.

Selain berperang melalui iklan yang tiada lelah, industri rokok diketahui membangun lobi-lobi politik untuk memenangi kebijakan di banyak negara. Tentu, termasuk Indonesia yang menurut survei terbaru menjadi negara dengan jumlah perokok terbesar di Asia Tenggara.

Adalah kepentingan industri rokok untuk menghilangkan ayat yang memasukkan tembakau sebagai zat adiktif. Karena itu, wajar bila ada tangan-tangan jahil berperan menghilangkan ayat itu.

Kecurigaan adalah salah satu institusi dalam penegakan hukum. Karena itu, patutlah dicurigai bahwa penghilangan ayat tembakau bukanlah semata kesalahan teknis, melainkan sebuah kesengajaan. Dengan demikian, itu adalah kejahatan yang amat serius. Karena itu kejahatan serius, pelakunya harus dihukum berat.

Kita lalai memahami sebuah bentuk kejahatan yang tidak berdarah. Yaitu kejahatan kebijakan. Ini kejahatan teks yang tidak menggorok, tetapi dalam jangka panjang membunuh banyak orang.

Ketika DPR yang salah satu fungsi utamanya melahirkan undang-undang demi kemaslahatan publik justru menghadirkan undang-undang yang mematikan publik, itu adalah kejahatan yang amat fundamental. Sebuah pengkhianatan nurani yang dahsyat. Sama dengan guru yang ternyata melakukan kejahatan pengajaran. Atau wasit yang mencurangi pertandingan.

Nafsu untuk mengkhianati mandat dan nurani rakyat masih bergelora di DPR. Legislasi menjadi salah satu alat tawar di pasar gelap maupun terang. Karena nafsu pengkhianatan masih membara, publik harus awas
]]>
<![CDATA[Apakah yang terjadi di dalam tubuh saat berhenti merokok?]]>Thu, 07 Nov 2013 07:52:40 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/apakah-yang-terjadi-di-dalam-tubuh-saat-berhenti-merokok
Picture
Pelajari apa yang terjadi pada tubuh Anda setelah sejam, sehari, sebulan, setahun bahkan sepuluh tahun setelah Anda menghentikan kebiasaan merokok. Fakta ini mungkin dapat mengejutkan Anda.

Anda pasti tahu seberapa buruk kebiasaan merokok bagi kesehatan Anda. Dan waktu terbaik untuk berhenti? Detik ini. Hanya dalam waktu 20 menit Anda akan mulai merasakan manfaat dari tidak merokok, dan dalam waktu cukup singkat, Anda telah menurunkan resiko penyakit jantung, stroke, serangan jantung, kanker paru-paru, dan kondisi berbahaya lainnya.

Penasaran berapa lama nikotin akan bertahan di tubuh Anda? Gejala apa yang akan Anda alami saat Anda berusaha berhenti merokok? Ingin tahu penyakit apa saja yang disebabkan dengan merokok? Berapa hari bebas tembakau yang akan membuat tubuh Anda memulihkan diri dan tidak lagi berada pada resiko bahaya rokok? Berikut ini adalah timeline apa yang akan terjadi pada tubuh Anda saat Anda berhenti merokok.

20 menit setelah Anda berhenti merokok. 
Pengaruh akibat Anda berhenti merokok akan segera diatur oleh tubuh Anda. Kurang dari 20 menit setelah rokok terakhir Anda, detak jantung Anda akan mulai menurun kembali ke tingkat normal.

2 jam setelah Anda berhenti merokok. 
Setelah dua jam tanpa rokok, denyut jantung dan tekanan darah akan mengalami penurunan mendekati tingkat yang sehat. Sirkulasi perifel Anda juga mungkin meningkat. Perhatikan ujung jari kaki dan tangan Anda – karena mungkin akan mulai terasa hangat. Gejala penghentian nikotin biasanya dimulai sekitar dua jam setelah Anda mengisap rokok terakhir Anda. Gejala awal biasanya cenderung bersifat emosional, termasuk:

Sangat ingin merokok secara terus-menerus
Merasa cemas, tegang atau frustrasi
Mengantuk atau kesulitan tidur
Nafsu makan meningkat

Untuk melawan gejala-gejala ini, cobalah untuk mengakuinya dengan rasionalisasi dan menuliskannya. Jangan menipu diri Anda dengan merokok lagi karena hal itu justru hanya akan membuat Anda jengkel.

12 jam setelah Anda berhenti merokok. 
Karbon monoksida – yang dapat menjadi racun bagi tubuh pada tingkat tinggi – dilepaskan dari pembakaran tembakau dan dihirup sebagai bagian dari asap rokok. Karena karbon monoksida terikat baik dengan sel darah, kandungan tinggi dari zat ini dapat mencegah sel darah untuk mengikat oksigen, yang pada akhirnya dapat menyebabkan masalah jantung yang serius. Hanya dalam waktu 12 jam setelah berhenti merokok, karbon monoksida dalam tubuh Anda akan menurun ke tingkat normal, dan kadar oksigen dalam darah Anda akan meningkat sampai tingkat normal.

24 jam setelah Anda berhenti merokok. 
Rata-rata serangan jantung di kalangan perokok 70%lebih tinggi daripada yang tidak merokok. Namun, percaya atau tidak, hanya sehari penuh setelah Anda berhenti merokok, resiko serangan jantgung Anda sudah mulai menurun. Meskipun Anda belum sepenuhnya bebas, namun Anda sudah berada di jalan yang benar.

48 jam setelah Anda berhenti merokok. 
Merokok mungkin tidak mengancam nyawa, namun indra yang mati – terutama indra penciuman dan perasa – merupakan salah satu konsekuensi yang jelas dari rokok. Untungnya, setelah 48 jam tanpa rokok, ujung saraf Anda akan mulai tumbuh kembali, dan kemampuan Anda untuk mencium dan merasa akan meningkat. Hanya sedikit waktu lagi, Anda akan kembali menghargai hal-hal yang lebih baik dalam kehidupan.

72 jam setelah Anda berhenti merokok. 
Pada titik ini, nikotin akan benar-benar keluar dari tubuh Anda. Sayangnya, gejala yang timbul akibat berhenti merokok akan mencapai puncaknya di sekitar waktu ini. Anda mungkin akan mengalami beberapa gejala fisik seperti sakit kepala, mual, atau kram di samping gejala emosional yang telah disebutkan sebelumnya. Untungnya, gejala fisik ini akan berlalu dengan cepat.

Untuk melawan gejala mental, pertimbangkan untuk menghargai diri Anda yang tidak lagi merokok: gunakan uang yang biasanya Anda habiskan untuk membeli rokok dengan menghabiskan makan malam di restoran yang bagus.

2 sampai 3 minggu setelah Anda berhenti merokok. 
Setelah beberapa minggu, Anda akan mulai benar-benar merasa berbeda. Anda pada akhirnya bisa berolahraga dan melakukan aktivitas fisik tanpa merasa kehabisan nafas dan sakit. Hal ini disebabkan sejumlah proses regeneratif yang mulai terjadi dalam tubuh Anda; sirkulasi tubuh Anda akan meningkat, dan fungsi paru-paru Anda juga akan meningkat secara signifikan. Setelah dua atau tiga minggu tanpa rokok, paru-paru Anda akan mulai terasa lega, dan Anda akan mulai bernafas dengan lebih mudah.

Bagi kebanyakan perokok, gejala yang timbul akibat berhenti merokok akan hilang dua minggu setelah berhenti merokok.

1 sampai 9 bulan setelah Anda berhenti merokok. 
Sekitar sebulan setelah Anda berhenti merokok, paru-paru Anda akan mulai beregenerasi. Di dalam paru-paru, silia – rambut halus – seperti organel yang mendorong lendir keluar – mulai memperbaiki diri dan kembali berfungsi dengan baik. Dengan silia yang kembali dapat berfungsi dengan baik, akan menolong mengurangi resiko Anda terkena infeksi. Dengan paru-paru yang berfungsi sebagaimana mestinya, batuk dan sesak nafas yang Anda alami akan terus menurun secara dramatis.

Bahkan untuk para perokok berat, gejala yang timbul akibat berhenti merokok tidak akan lagi terasa beberapa bulan setelah berhenti dari merokok.

1 tahun setelah Anda berhenti merokok. 
Menandai satu tahun berhentinya Anda dari kebiasaan merokok merupakan hal yang besar. Setelah setahun tanpa rokok, resiko Anda terkena serangan jantung akan menurun sampai 50% dibandingkan ketika Anda masih merokok. Cara lain untuk melihat pada kemajuan ini adalah seorang perokok dua kali lebih mungkin dibandingkan Anda untuk menderita semua jenis penyakit jantung.

5 tahun setelah Anda berhenti merokok. 
Sejumlah zat dilepaskan dalam proses pembakaran tembakau – karbon monoksida merupakan salah satu di antaranya – akan menyebabkan pembuluh darah Anda menyempit, yang meningkatkan resiko Anda mengalami stroke. Setelah 5-15 tahun bebas dari rokok, resiko Anda untuk memgalami stroke sama dengan mereka yang bukan perokok.

10 tahun setelah Anda berhenti merokok. 
Para perokok memiliki resiko yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak merokok untuk daftar menakutkan dari penyakit kanker, dengan kanker paru-paru menjadi yang paling umum dan salah satu jenis yang paling berbahaya. Merokok menyumbang 90% kematian akibat penyakit paru-paru di seluruh dunia. Hal ini akan memakan waktu 10 tahun, namun jika Anda berhenti, resiko kematian akibat kanker paru-partu akan turun 50% dibandingkan mereka yang merokok. 10 tahun setelah Anda berhenti merokok, resiko Anda dari kanker mulut, tenggorokan, kerongkongan, kandung kemih, ginjal dan pankreas juga akan menurun.

15 tahun setelah Anda berhenti merokok. 
15 tahun tanpa merokok akan membawa resiko penyakt jantung kembali ke tingkat yang sama dengan mereka yang memang bukan perokok. Anda tidak akan lagi berada pada posisi yang lebih tinggi dari normal untuk berbagai kondisi seperti serangan jantung, penyakit koroner, arhitmia, angina, infeksi jantung maupun kondisi yang mempengaruhi irama detak jantung Anda.

Manfaat jangka panjang dari menghentikan kebiasaan merokok sangatlah fantastis. Menurut Asosiasi Jantung Amerika, mereka yang tidak merokok rata-rata hidup 14 tahun lebih lama dibandingkan para perokok. Berhenti hari ini, dan Anda akan memperpanjang rentang hidup Anda dan menghidupi tahun-tahun ekstra dengan sistem kardiovaskular yang dapat berfungsi, saat Anda aktif dan merasa luar biasa.

Apakah Anda siap berhenti? Berhenti memang tidak mudah, namun hal itu sangat layak untuk diperjuangkan, dan ada sumber daya yang tersedia untuk membantu Anda berhenti hari ini. Apakah Anda siap untuk menikmati manfaat dari hidup bebas asap rokok?

Baca juga ini: Cara cepat berhenti merokok
]]>
<![CDATA[Menkes Malu Indonesia Belum Ratifikasi FCTC]]>Wed, 06 Nov 2013 09:18:57 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/menkes-malu-indonesia-belum-ratifikasi-fctc
Picture
Liputan6.com, Jakarta : Salah satu hal terpenting yang menjadi topik pembahasan para peserta Konferensi Tingkat Menteri Kesehatan (KTM) ke-4 Organisasi Kerjasama Islam (OKI), adalah masalah rokok. Ya, sampai saat ini, rokok masih menjadi topik hangat yang akan terus diperbincangkan.

Terlebih masalah The Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) sampai saat ini juga belum menemukan kata sepakat. Buktinya, ada lima Kementerian Republik Indonesia yang masih `ribut` masalah FCTC ini.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Nafsiah Mboi, SpA, M.P.H. mengatakan, dari negara-negara yang tergabung di dalam OKI, rata-rata sudah meratifikasi FCTC ini. Sangat disayangkan memang, mengingat masih ada dua negara yang belum meratifikasi FCTC, yaitu Indonesia dan Somalia.

"Saya malu saja, negara-negara lain sudah meratifikasi FCTC ini, sedangkan Somalia dan Indonesia belum," aku Nafsiah Mboi, di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (22/10/2013)

Hal ini disampaikan oleh Nafsiah Mboi kepada sejumlah wartawan, yang menemuinya dalam acara pertemuan ke-4 acara Conference of Health Ministers (ICHM) Organization of Islamic Cooperation (OIC), di mana dalam konferensi itu ia didapuk menjadi Ketua ICHM untuk masa bakti 2013-2015.

Malunya ibu menteri satu itu bukan tanpa alasan. Menurut ia, Somalia belum juga meratifikasi FCTC ini, karena memang di negaranya tidak ada Pemerintahannya. "Sedangkan Indonesia, pemerintahannya sendiri sudah jelas-jelas ada," tambah Nafsiah.

Dalam kesempatan yang berbeda, Bambang Sulistomo, Staf Khusus Menteri Bidang Politik Kebijakan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan, Indonesia tidak akan bisa memerjuangkan kepentingan untuk melindungi masyarakatnya dari masalah rokok, bila FCTC ini tidak segera diaksesi.

"Yang menakutkan bila FCTC ini tidak diaksesi, terjadinya peningkatan kematian akibat penyakit tidak menular (PTM). Merokok merupakan faktor risiko utama PTM," terang Bambang.

Bila ada yang berpendapat bahwa FCTC akan berdampak buruk pada perekonomian bangsa Indonesia, karena industri rokok terlalu dikekang, jelas itu keliru.

Dikatakan Bambang, FCTC tidak akan berpengaruh langsung terhadap ekonomi terkait indusrti rokok. Dari pengalaman banyak negara, menunjukkan pengendalian tembakau tidak secara signifikan memengaruhi industri tembakau, karena konsumsi rokok bersifat inelastis akibat adiksi tidak mengalami penurunan yang drastis.

"Sehingga, ini tidak merugikan petani tembakau, dan tidak terbukti mematikan industri rokok," lanjutnya.

Sebagai contoh adalah negara China, Brazil, dan India. Meskipun ketiga negara itu telah meratifikasi FCTC, negara tersebut tetap sebagai negara penghasil tembakau tertinggi di dunia.

Thailand saja yang telah meratifikasi FCTC pada tahun 2004, telah berhasil meningkatkan pendapat cukai sebesar 25 persen.
]]>
<![CDATA[Mengisap e-cigarette juga bisa menyebabkan kanker?]]>Tue, 05 Nov 2013 19:06:59 GMThttp://seft2020.weebly.com/tentang-rokok/mengisap-e-cigarette-juga-bisa-menyebabkan-kanker
Picture
Selama ini merokok tembakau diklaim sebagai salah satu penyebab kanker paru-paru yang mematikan. Namun sebuah penelitian terbaru dari National Consumers' Institute mengungkap kalau e-cigarette atau rokok elektrik juga mengandung senyawa berbahaya yang meningkatkan risiko paru-paru.

Penelitian tersebut tepatnya diliput oleh majalah 60 Millions Consommateurs di Prancis. Pemerintah Prancis sendiri memang berniat untuk melarang penggunaan e-cigarette di tempat umum mulai tahun ini.

Editor dari majalah itu, Thomas Laurenceau, menulis, "Kami mendeteksi jumlah molekul karsinogen - penyebab kanker - pada asap pembakaran e-cigarette yang selama ini tidak terdeteksi."

Sebagaimana dilansir dari Daily Mail, e-cigarette merupakan produk yang pertama kali ditemukan China pada tahun 2003 lalu. E-cigarette pun akhirnya dijadikan alternatif bagi banyak orang untuk mengisap rokok selain tembakau.

Beberapa orang percaya kalau mengisap e-cigarette mampu mengatasi kecanduan terhadap rokok tembakau. Namun penelitian justru menyatakan hal yang sebaliknya.
]]>