<![CDATA[Terapi SEFT - Testimoni]]>Thu, 10 Mar 2016 16:20:58 +0700Weebly<![CDATA[Sakit jantung sembuh dengan SEFT]]>Thu, 14 Nov 2013 11:53:53 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/sakit-jantung-sembuh-dengan-seft
Picture
Kisah nyata SEFTer:

Bunda Ina, Merasa menemukan kehidupan yang kedua setelah mengikuti Training SEFT Total Solution. Beliau menderita sakit jantung yang seharusnya menggunakan 5 ring jantung, tapi ternyata beliau hanya menggunakan 1 ring. Dan biaya pemasangan 1 ring tersebut adalah 50 Juta rupiah. Bukan hanya itu saja, ternyata setiap minggu masih harus mengeluarkan biaya 4 juta rupiah. Bahkan dokternya sudah memberikan vonis bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa bulan lagi.

Awalnya beliau tidak percaya dengan SEFT dan berkata "dokter aja bilang sudah tidak ada obatnya apalagi SEFT". Alhamdulillah, sekarang beliau malah aktif syiar SEFT Total Solusi. Dan sudah tidak minum obat jantung karena sudah sehat. "Bagi saya Training SEFT sangat murah!" SEFT bukan sekedar pengobatan, tapi pencerahan dan pemaknaan hidup. 

Hidup dalam zona ikhlas dan pasrah. Maka kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan akan mengikuti. Luar Biasanya pak Ahmad Faiz (Founder SEFT) menggaransi jika dalam 7 minggu tidak ada perubahan dalam segi kesehatan, keberuntungan, finansial dan hubungan keluarga, maka 100% investasi dikembalikan.

Semoga menginspirasi. Salam LoGOS Spirit
Baca juga:
Manfaat Training SEFT
Jadwal SEFT seluruh Indonesia
]]>
<![CDATA[Padukan Akupuntur dengan SEFT]]>Sat, 07 Sep 2013 06:21:05 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/padukan-akupuntur-dengan-seft
Picture
Profesi saya pada awalnya adalah seorang akupuntur, karena kesenangan terhadap akupuntur merupakan kesenangan yang telah muncul sejak saya masih muda. Dan pada waktu itu saya hafal semua titik dan cara mengaplikasikannya atau memijatnya. Itu saya alami sekitar tahun 1993. 
    Baru pada tahun 1994 saya mencoba bergabung dengan PAKSI (persatuan akupuntur se-Indonesia). Kalau dihitung-hitung, saya menekuni pijat refleksi akupuntur ini sudah sekitar 19 tahunan, kira-kira dari 93 sampai sekarang, sehingga kalau bertanya tentang pengalaman menangani pasien, saya sudah sangat pengalaman, karena di rumah, waktu saya masih tinggal di Wonocolo, saya membuka praktek pijet refleksi ukupuntur.

Tetapi saya sekarang sudah pindah ke Krian, jadi sudah tidak buka praktek lagi. Tapi klien atau pasien saya masih banyak yang menghubungi saya, untuk minta pijat refleksi. Seperti pegawai, pensiunan Telkom bahkan polisi juga sering mencari saya untuk pijat refleksi.

Sejak saya kenal dengan SEFT, pada tanggal 28-29 januari 2012 di hotel Santika Pandegiling Surabaya, pijat refleksi tadi sudah jarang saya gunakan. Meski begitu, bahasanya mungkin bukan “tidak digunakan”, namun saya lebih pada menggabungkan antara pijat refleksi akupuntur dengan SEFT. Ternyata hasilnya luar biasa dan memang ampuh. Jadi sekarang saya tidak perlu pijat atau tusuk jarum untuk melakukan terapi pada pasien saya. 

Tetapi cukup melakukan set up dan totok-totok ringan pada bagian tertentu yang hal itu sudah diajarkan oleh pak Syarif Thoyib ketika traning SEFT. 
Menurut komentar pasien saya, SEFT ini lebih ampuh dan lebih ringan ketimbang pijat refleksi yang terkadang ketika pijat menimbulkan kesakitan yang sangat tidak kita inginkan, kita mau datang untuk berobat, tapi malah di tambah sakit. Dengan SEFT ini bisa lebih mudah dan enteng, yang paling menakjubkan ialah dengan SEFT ini suasana hati lebih tenang dan tentram. Banyak pasien saya yang bilang seperti itu. Heran, beda dengan akupuntur 

Sampai sekarang saya juga masih heran terhadap SEFT, karena titik-titik yang dipakai oleh SEFT tidak sama dengan titik-titik yang dipakai oleh pijat refleksi akupuntur. Artinya di sini kalau dalam istilah akupuntur, seperti yang saya jelaskan di atas bahwa terdapat titik-titik jendral atau titik istimewa yang harus dilakukan pada setiap proses terapi. 

Yang saya herankan, SEFT ini bukan merupakan titik istimewa, akan tetapi lebih ampuh ketimbang pijat refleksi. Makanya kemudian saya menggabungkan keahlian saya dalam bidang akupuntur dengan terapi SEFT, sehingga hasilnya sangat memuaskan. Yang tak kalah herannya juga setiap saya melakukan terapi SEFT, 85% dari pasien saya itu semua menangis. Saya juga tidak tahu kenapa, padahal saya lakukan itu dengan biasa, dengan tidak menghilangkan konsentrasi tentunya. Suatu ketika saya tanya kepada klien, alasan kenapa sampai menangis, mereka rata-rata menjawab kalau SEFT itu lebih mengena, lebih menyentuh hati, sehingga dapat menghilangkan sampah-sampah emosi. Itulah yang jarang ditemukan oleh terapi-terapi yang lain. Semoga bermanfaat. Amien.
oleh : ANANG HARNADI PARTODIRIJO, DRS. Angkatan 93.
]]>
<![CDATA[Terapi Jantung Koroner dengan Metode SEFT]]>Sat, 07 Sep 2013 06:20:21 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/terapi-jantung-koroner-dengan-metode-seft
Picture
Stres dan tekanan hidup yang berat bias menjadi salah satu pemicu jantung koroner. Namun, dengan terapi SEFT, derita itu bisa diatasi. Penasaran? Berikut liputannya.

JANTUNG koroner adalah salah satu penyakit yang ditakuti banyak orang. Pasalnya, jika penyakit ini tidak ditangani secara khusus, akan berakibat fatal. Ahmad Faiz Zainuddin, founder Terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique), menjelaskan bahwa penyakit ini terjadi karena adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri koroner. Adapun penyebab awalnya ialah penumpukan zat-zat lemak (kolesterol) di dinding pembuluh nadi bagian paling bawah.

“Maka aliran darah akan tersumbat dan tak mampu menuju jantung sehingga mengganggu kerja jantung dalam memompa darah,” terangnya mengawali penjelasan.

AKIBAT STRES
Lebih jauh, Ahmad Faiz mengungkapkan jika secara medis, ada beberapa faktor penyebab awal terjadinya penyakit ini, salah satunya ialah stress akibat tekanan hidup berat yang tak mampu teratasi. Mayoritas penderita penyakit ini pun masih berusia produktif. Maka kepada penderita jantung koroner, SEFT memulai terapinya dengan penekanan pada sisi spiritualitas dan emosi. “Pengidap penyakit ini, pada waktu dan titik tertentu pasti dilanda kecemasan hingga berpikir, apakah saya bisa bertahan dari penyakit ini, bagaimana keluarga saya nanti, dan kekhawatiran lain,” tandas Faiz.

Langkah awal yang dilakukan SEFTer (terapis SEFT) saat menghadapi penderita penyakit semacam ini ialah mengajaknya untuk memasrahkan seluruh tanggungan dan masalah kehidupannya kepada Allah, sebab kematian dan rezeki sudah digariskan oleh-Nya. Setelah itu baru diajak ikhlas menerima penyakitnya.

“Jika si pasien mampu mencapai titik tertinggi dari kepasrahan (surrender) dan keikhlasan (sincerity), maka tapping bisa jadi tak perlu dilakukan, karena penderita bisa,” imbuhnya. Hal ini telah dibuktikan Lester Levinson, wirausahawan sukses dan pakar Fisika yang tinggal di New York, Amerika Serikat.

Pada usia 42 tahun ia menderita beragam penyakit seperti batu ginjal, gangguan lever, dan beberapa lainnya. Suatu hari dokter yang menanganinya menyerah dan memvonisnya pulang untuk menghadapi maut secara tenang dirumahnya. Namun ia tak menyerah, ia terus mencari obat atas penyakitnya. Hingga kemudian ia menemukan cara pengobatan alternatif, yaitu pasrah melampaui segala keterbatasan diri (letting go of all any inner limitation).

“Selama tiga bulan ia menerapkan metode ini dan secara ajaib semua penyakitnya sembuh. Ia terus merasakan kebahagiaan dan kedamaian hati hingga meninggal pada 18 Januari 1994, 40 tahun setelah vonis dokter. Oleh murid-muridnya, metode ini dikembangkan dan dinamakan dengan Sedona method. Oleh SEFT, metode ini dikombinasikan dengan beberapa teknik terapi lain,” tandas Faiz lagi.

JANTUNG KORONER
Berkaitan dengan kasus penyakit ini, salah staf pegawai administrasi di PDAM Kota Surabaya, Muhammad Jamil (46) pernah mengalaminya. Pria lulusan ekonomi Universitas WR Supratman Surabaya ini sempat divonis dokter mengidap penyakit jantung koroner pada 31 Oktober 2008. Setelah dirawat di bagian ICU di salah satu rumah sakit Surabaya, tim dokter menyimpulkan bahwa ada saluran pembuluh darah ke jantung yang buntu. Bahkan, tingkat penyumbatannya sudah sampai 90%. Setelah itu tim dokter merekomendasikan untuk segera dilakukan pemasangan ring atau cincin penyanggah (stent) pada pembuluh darah agar aliran darah ke jantung bias normal.

“Setelah pemasangan  stent, saya diharuskan untuk check up ke rumah sakit setiap 2 minggu, dan kemudian memanjang sebulan sekali, dua bulan sekali, dan sekarang empat bulan sekali. Ini dilakukan untuk mengukur kadar kolesterol dalam tubuh,” tuturnya. Kenyataan ini tentu saja tak hanya membuat Jamil (panggilan akrabnya) shock  dan depresi. Namun, karena sakit tersebut ia juga terpaksa harus dipindahtugaskan dari yang semula di bagian pengolahan air ke bagian yang lebih ringan.

Singkat cerita, pada awal Mei 2009, Jamil akhirnya bertemu dengan Luqman, salah seorang pegawai LoGOS Institute Surabaya yang menyelenggarakan training SEFT dan memaparkan segala macam keluhan fisik yang menimpa dirinya.

DITERAPI SEFT
Luqman pun lantas menerapi dirinya di rumah. Secara rutin, dalam satu minggu Luqman datang dan menerapi Jamil. “Mungkin SEFT hanyalah salah satu terapi, selain terapi medis yang terus saya tempuh. Namun, saya merasakan dampak yang sangat signifikan. Saya betul-betul termotivasi untuk sembuh dengan cara mengikhlaskan dan memasrahkan penyakit ini kepada Allah. Efeknya, saya bisa lebih rileks menghadapi penyakit ini,” imbuhnya lagi. Semenjak itu, tiap kali Jamil merasakan sakit di tubuhnya, dengan segera ia langsung melakukan terapi SEFT secara mandiri (tanpa terapis).

“Setelah dua bulan terapi SEFT, Alhamdulillah kondisi saya terus membaik walaupun belum sembuh total. Ibaratnya, saya ini orang yang tenggelam di air, dan mas Luqman membantu mengangkat saya ke darat. Walaupun air di dalam tubuh belum tentu semuanya keluar, namun saya sudah bisa bernapas,” terang Jamil dengan sumringah. “Padahal, sebelumnya saya khawatir karena kondisi saya ini. Saya yakin, jika niat kuat, Allah pasti membukakan jalan, “pungkasnya. (Nurani, Tahun VIII, Agustus/II/09)
]]>
<![CDATA[Ikut SEFT, Phobia Naik Tangga Hilang]]>Fri, 06 Sep 2013 20:16:20 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/ikut-seft-phobia-naik-tangga-hilang
Picture
Sebagian besar phobia disebabkan trauma. Peristiwa menyakitkan  yang dialami penderita memicu ketakutan yang berkepanjangan hingga tanpa sadar seperti ter-install di alam bawah sadarnya, Bagaimana mengatasinya?

MENURUT  mazhab energy psychology, trauma membangkitkan gangguan psikologi, namun antara” yaitu akibat gangguan sistem energi tubuh penderita. Dalam spikologi kovensional, terdapat teknik flatting untuk penyembuhan phobia .”Terhadap pengidap phobia bulu unggas misalnya, terapis justru memaksa penderita untuk melihatnya secara jelas hingga dia shock,” papar Faiz Zainuddin.

Energy psychology menawarkan solusi cukup sederhana .  “Netralisir sistem tubuh pengidap ,”tandasnya.

Adapun metode terapinya yaitu  dengan tapping  (ketukan dibeberapa titik kunci aliran tubuh yang biasa menjadi objek tusukan  dalam terapi akupuntur).  Semua itu dikombinasikan dengan spiritualitas yang bertumpuh pada keikhlasan, kepasrahan kepada Allah , dan kekhusyukan penderita. Tatkala sumber gangguan ditransendensikan, beban seseorang seperti trauma, takut, khawatir akan lebih ringan.

Takut  Naik Tangga 
Pengalaman sembuh dari phobia dialami Hj Ma’fufah, alumni training SEFT  Angkatan  ke-VIII. Wanita usia 52 tahun ini mengalami phobia naik tangga usai operasi kaki kirinya. Osteoporosis atau pengeroposan pada tulang membuatnya harus menjalani  operasi  pembedahan. Pasca-operasi, dokter yang menanganinya menyarankan untuk mendahulukan kaki kanan ketika naik turun tangga.

Suatu saat, kaki yang menjadi tumpuan itu sempat terkilir ketika naik tangga. Peristiwa  ini memicu trauma pada diri istri Husni Rozak ini. Hal itu terjadi sekitar awal tahun 2006. Dampaknya ia sangat ketakutan saat hendak menaiki turun tangga lagi. Untuk melepas diri dari phobia ini, beberapa jenis terapi sudah dilakukan, namun hasilnya tidak sesuai  dengan yang diharapkan.

Hingga  akhirnya sang suami mengajak untuk mengikuti pelatihan SEFT pada awal tahun 2007. Awalnya ia enggan untuk menuruti ajakan itu, namun karena besarnya dorongan suami dan keinginannya yang kuat agar tidak takut naik turun tangga lagi, akhirnya ia mau berangkat ke salah satu hotel di Surabaya.

Ketika melihat tangga hotel , trauma itu muncul kembali .”Saya gelisah dan takut. Kaki saya gemetar dan berkeringat dingin mulai keluar,” tuturnya. Dalam bayangannya, saat turun dari tangga, seperti akan memasuki jurang terjal yang curam dan gelap gulita hingga kakinya berat digerakan.

Di-Tapping Dua Kali 
Untuk  membantunya agar bisa naik tangga, salah seorang perempuan alumni SEFT mencoba melakukan terapi awal. Dengan cara dipapah, ia bisa naik tangga dan sampai  lokasi training meski ketakutan masih sangat menyelimutinya . Namun, terapi tersebut belum memberikan pengaruh signifikan baginya. Ia masih takut melihat tangga-tangga yang menurun.

Saat bingung  dan takut itu, ia menemui founder SEFT, Ahmad Faiz Zainuddin yang mengutarakan kegundahannya akan permasalahan yang menimpanya itu. Mas Faiz pun langsung melakukan terapi dan mengajaknya untuk menghafal set up sebagai berikut ,” YA Allah ,meskipun saya takut naik turun tangga, saya ikhlas apapun yang terjadi  nanti dan saya pasrah kepada- Mu.”

Setelah tapping (proses terapi ketukan)  dilakukan dalam dua kali putaran, “Saya ditutun oleh Mas Faiz menuruni tangga, sambil dia mengetuk bagian karate scop (samping telapak tangan yang biasa digunakan untuk mematahkan belok: red).  Alhamdulliah saya berhasil menuruni tangga meski masih sedikit tersisa rasa takut dan kaki terasa nyeri , namun saya jauh lebih berani,” tutur wanita yang menjadi hakim pengadilan negeri mojokerto ini.

Ternyata tak berhenti disitu , sang founder  SEFT meminta untuk naik turun tangga berkali-kali. Awalnya ia sempat bingung dan terbersit rasa takut .” Namun, dengan semangat yang diberikan Mas Faiz dan suami, akhirnya saya mencobanya .” Akhirnya ketakutan itu hilang dengan sendirinya. Cuma ia mengaku  sedikit masih ada rasa nyeri di kaki karena lama tidak naik-turun tangga. (Nurani, Tahun VIII, Agustus III, 2009)
]]>
<![CDATA[Sakit Di Leher Lenyap Dengan Terapi SEFT]]>Fri, 06 Sep 2013 15:55:41 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/sakit-di-leher-lenyap-dengan-terapi-seft
Picture
Semua penyakit pasti ada obatnya . Begitu halnya yang dialami Sri Maryatun. Setelah sekian lam menderita benjolan di leher karena suatu penyakit, akhirnya sembuh setelah diterapi SEFT.  Bagaimana kisahnya?

SEJAK pertengahan 2008, tiba-tiba di bagian leher Sri Maryatun (38) muncul benjolan. Awalnya, ibu dari dua anak itu  mengalami demam dan nyeri  di bagian tenggorokan. Tak berselang lama, Sri melihat kelainan di bagian lehernya. “Kok leher sebelah kanan seperti membengkak?” tukasnya.

Untuk mengantisipasi akibat yang lebih buruk, Sri memeriksakan diri ke dokter umum. Karena dianggap benjolan biasa, dokter pun memberinya obat antianalgia untuk menghilangkan nyeri dan panas yang ia rasakan.  Ternyata, penyakitnya tak kunjung hilang. Hampir setiap hari badannya meriang diiringi rasa sakit ditenggorokan. Untuk meringankannya, Sri terpaksa meminum cairan penyegar yang banyak dijual bebas, namun itu hanya sementara.

Dimotivasi
Beruntung sebagai ibu rumah tangga aktivitas Sri Cuma berkutat di lingkup rumah sehingga rasa sakitnya masih bisa bertahan. Oleh suami, wanita lulusan SMEA (sekarang SMK) ini diajak untuk check up ke dokter spesialis penyakit dalam dan direkomendasikan ke rumah sakit untuk dilakukan foto scan. Menuruti anjuran dokter, Sri menuju salah satu rumah sakit besar di Surabaya. Sayangnya, sesampainya di lokasi ia mengalami nervous.

“Tiba-tiba badan saya meriang dan lemas. Ya sudah, saya urungkan niat foto scan itu dan segera mengajak suami pulang ,” tutur Sri. Karena itu, Sri tidak mengerti jenis penyakit apa yang dideritanya. Hanya saat berbincang dengan dokter spesialis, kemungkinan benjolan itu harus dioperasi. Padahal alat-alat medis saja ia sudah takut.

Sekitar sepuluh bulan Sri terus menahan sakitnya. Hingga pada bulan April, ia diperkenalkan dengan Arif Fathuerrahman SPdl, alumnus Training SEFT angkatan ke-43. Arif adalah ustad di pesantren dekat rumahnya, Setro Baru Utara, Gading, Tambaksari, Surabaya. 

“Saat ustad Arif datang ke rumah untuk melakukan terapi, beberapa saudara sedang berkumpul. Waktu itu saya merasakan sangat sakit, bahkan untuk ngomong saja sulit. Jadi ,saya diam saja,” kisah wanita ini. Oleh Arif, Sri diberi motivasi untuk bisa menghadapi segala masalah dengan lapang dada. Sri ngaku, dirinya adalah sosok pemarah yang sulit mengendalikan emosi. Setelah itu ia diajak untuk menerima secara ikhlas penyakit yang di deritanya dan memasrahkan kesembuhannya kepada Allah .

Kerusakan Organ 
Pada putaran pertama, pria berdarah Sunda itu melakukan terapi dengan memfokuskan pada benjolan di leher Sri .”Saya menggunakan tangan kanan untuk mengetuk (tapping) delapan belas titik tubuh Sri,” ujar Arif. Ajaib, putaran pertama usai, benjolan di leher Sri langsung lenyap tak berbekas. Namun, lantaran Sri masih merasakan sakit ditenggorokan, Arif mengulangi tapping dengan dengan konsentrasi untuk menghilangkan rasa sakitnya. 

Set up atau doa yang diucapkan Sri ialah, “Ya Allah meski leher dan tenggorokan saya sakit, saya ikhlas saya pasrah.” Setelah tapping putaran kedua, seluruh rasa sakit yang diderita Sri turut menghilang. “Saya heran, kok bisa ya, hanya dengan ketuk-ketuk, benjolan di leher bisa lenyap. Dan emosi saya juga lebih terkendali sekarang,”pungkas Sri.

Sementara itu, Maestro SEFT, Ahmad Faiz Zainuddin, sang penemu terapi SEFT, dalam ilmu kedoteran barat, tubuh manusia adalah materi yang terdiri dari organ tubuh yang larutan kimia. Maka, ketika seorang merasa sakit, penyebabnya adalah kekacauan kimiawi atau kerusakan organ tubuh. Untuk menyelaraskan sistem kimiawi tubuh, dibutuhkan intervensi zat kimia, yaitu obat-obatan. Jika penyakitnya masih belum teratasi, dokter merekomendasikan untuk dilakukan operasi pembedahan untuk mengangkat meteri penyakit. Sementara ilmu kedokteran timur kedokteran menghadirkan pendekatan lain yaitu sistem energi.

“Tubuh manusia adalah sebuah sistem energi, jika sirkulasinya lancar dan berjalan mulus, maka kesehatan badan akan terjaga. Sebaliknya, jika terdapat gangguan, berbagai penyakit fisik akan muncul termasuk dalam kasus ibu Sri Maryatun yang mengalami benjolan di bagian leher tersebut,” ujarnya.

Tapping (ketukan) dalam SEFT (Spiritual  Emotional  Freedom  Technique), sambung Faiz mempunyai fungsi menyelaraskan energi tubuh yang terganggu. Apabila sistem energi itu sudah berjalan bagus, maka efeknya, berbagai penyakit fisik akan hilang. “Selain itu menurut mazhab energi psikologi yang dianut (SEFT), penyakit fisik manusia hampir semuanya dipicu oleh emosi negatif. Kendati terkadang hal itu tidak disadari oleh penderita. Karena sebelum melakukan terapi untuk penyembuhan fisik, para terapis SEFT biasanya mengajak pasien untuk menerima secara ikhlas segala beban masalah yang membelit dirinya. Karena kemungkinan besar disitulah akar masalahnya,”tandasnya. (Nurani, VII/O7/I/09)
]]>
<![CDATA[Terapi Phobia Kupu-Kupu Dengan SEFT]]>Fri, 06 Sep 2013 15:45:21 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/terapi-phobia-kupu-kupu-dengan-seft
Picture
Pada awalnya saya ikut SEFT untuk menyembuhkan penyakit diabet. Beberapa hari ikut training SEFT, ternyata tidak hanya penyakit diabet yang bisa disembuhkan. Tetapi semua penyakit, termasuk yang saya alami, seperti pobia kupu-kupu. Ternyata pobia tersebut bisa disembuhkan. Meski saya sendiri masih belum berani mencoba menerapi diri sendiri.
Pobia kupu-kupu ini sudah saya alami sejak kecil. Waktu masih kecil, saya membayangkan jika kupu-kupu itu badannya dari ulat. Bayangin kecilnya aja seperti itu, apalagi besarnya. Pastinya lebih seperti monster. Bayangan itu yang selalu menghantui saya. Hingga saya kemudian mengalami pobia kupu-kupu.

Pernah pada suatu ketika, saya tidak berani pakai parfum. Gara-garanya, setelah parfumnya saya pakai, ada kupu-kupu hinggap ke badan saya. Karena  takut, saya nggak pakai parfum lagi.

Saya ingin sembuh dari penyakit phobia kupu-kupu ini. Di training, saya minta tolong seorang SEFTer untuk menerapi penyakit yang selalu menghantui saya ini. Pertama, saya disuruh lihat kotak yang berisi kupu-kupu hiasan. Mula-mula hanya rasa takut yang saya rasakan. Setelah itu saya ditapping. Kemudian saya disuruh lagi agar melihat dalam jarak 5 meter, tetapi ternyata saya masih belum berani. 

Saya kembali ditapping, sambil didekatkan secara perlahan. Akhirnya saya berani melihat dalam jarak dekat. Saya disuruh memegang kotaknya, kemudian diminta mengambil kupu-kupu yang ada di dalam. Luar biasa, tak disangka. Ternyata saya sudah bisa memegang kupu-kupu tersebut. Alhamdulillah, setelah tapping selesai, saya tidak takut lagi pada kupu-kupu. Saya sembuh total, plong rasanya diri ini. Sampai-sampai, saya menangis karena terharu dan bahagia.

Terkait dengan penyakit utama saya, yakni diabet sudah mulai membaik, saya lakukan SEFT ini setiap hari. Dan hasilnya sangat signifikan.
oleh : HENNY, ANGKATAN 89
]]>
<![CDATA[Hubungan Dengan Anak Menjadi Harmonis]]>Fri, 06 Sep 2013 15:27:18 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/hubungan-dengan-anak-menjadi-harmonis
Picture
Memiliki anak yang berbakti adalah harapan semua orang tua, namun jalan yang dilaluipun tak mudah membalikkan telapak tangan. Begitu pula yang dilalui oleh Dra. Ambar rukmini, MM (44) seorang pegawai negri sipil kabupaten Pacitan. Keinginan Fahmi Kafabih (14) anak pertama Ambar untuk memiliki sebuah sepeda motor membuat hubungan mereka sempat renggang.

Menurut Ambar menginjak usia smp, sikap dan prilaku putranya banyak berubah. Dulunya Fahmi yang merupakan anak penurut dan memiliki banyak prestasi, tiba – tiba kondisinya menurun. Fahmi menjadi anak yang bengal dan cenderung banyak menuntut, mulai dari barang elektronik hingga kendaraan bemotor. “Entahlah mungkin disebabkan oleh pergaulan anak saya,” ujar Ambar.

Sempat memukul
Di usia yang masih belia Fahmi juga mulai merokok. Hal tersebut juga mengganggu kesehariaannya yang mengikuti bela diri Persatuan Setia Hati Teratai ( PSHT ). Fahmi yang awalnya sanggup lari 10 kilometer, kini dirinya merasa tak sanggup lagi melakukannya. “Kini Fahmi mudah lemas dan capek,” ujar Ambar.

Perubahan prilaku yang di alami oleh Fahmi tersebut tentu saja membuat sedih hati ambar. Betapa tidak, dalam hati ia menginginkan agar putranya menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orang tuanya. Namun kenyataan berkata lain, demi mendapatkan sepeda motor keinginannya Fahmi bahkan berani mencaci maki Ambar. Tak hanya itu saja, Fahmi juga sering berbuat diluar kontrol dengan membanting barang – barang yang ada dirumah. Dalam keadaan marah tersebut bahkan juga sempat mengancam keluar dari rumah jika keinginannya tidak dituruti. “ Terkadang saya harus mengalah dengan sikap Fahmi yang keras tersebut,” ujar Ambar.

Menurut Ambar dirinya bahkan sempat tak bisa menahan emosinya lantas tanpa disengaja memukul Fahmi. Hal tersebut terjadi saat dirinya menjalankan sholat. Namun usai memukul Fahmi dirinya menyesal dan langsung meminta maaf. “Beruntung fahmi tidak berontak dan berbalik memukul saya,” imbaunya.

Sebagai pelanggan setia Tabloid NURANI, Ambar lantas mendapatkan inspirasi dari salah satu rubik yaitu testimoni SEFT. Dalam beberapa artikel rubrik tersebut menjelaskan kedasyatan terapi SEFT yang dapat menjadi solusi setiap masalah. Tak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga mampu mengatasi berbagai macam phobia dan emosi.

Ambar mengatakan bahwa seketika itu juga dirinya mencari informasi terkait terapi SEFT baik yang ada di dalam Tabloid NURANI maupun melalui internet. Beberapa artikel dalam tabloid dia kliping, sementara informasi dari internet juga di downloadnya.

Lebih Harmonis
Bersama suami dan kedua putranya, Ambar lantas menuju kantor pusat SEFT di Surabaya. “Mumpung Fahmi sedang liburan, jadi saya dan suami menyempatkan diri berkunjung ke kantor pusat SEFT,” ujar Ambar.

Menurut Ambar memang masih tak banyak perubahan yang ditunjukan oleh Fahmi. Namun setelah diterapi langsung oleh SEFTer di Surabaya emosi Fahmi jauh lebih tenang bahkan Fahmi juga sudah berkosentrasi untuk belajar. Hasilnya juga ditunjukkan dengan meningkatnya nilai yang didapat pada nilai beberapa mata pelajaran. Hubungannya sebagai ibu dan anakpun kini menjadi lebih harmonis.

Masih menurut Ambar, pada dasarnya tehnik tapping dalam terapi SEFT sangat mudah dilakukan. Bahkan dirinya juga yakin bahwa semua orang dapat melakukannya langsung, mengingat tak ada gerakan – gerakan yang sulit dalam metode tapping. Awalnya Fahm sempat bertanya–tanya kenapa dirinya ditotok seperti itu? Setelah dijelaskan kegunannya iapun menurut dan mengikuti intruksi hingga terapi selesai dilakukan.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih, terutama kepada mas Faiz selaku Founding SEFT yang mampu memberikan solusi atas apa yang saya alami,” pungkas Ambar.
]]>
<![CDATA[Terapi SEFT Sembuhkan Mata Juling]]>Fri, 06 Sep 2013 15:05:32 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/terapi-seft-sembuhkan-mata-juling
Picture
Siti Mulimah (26) warga kota jember harus menerima kenyataan yang ada. Betapa tidak, putri kesayangannya yang bernama Hilmalia irfani (6) harus menderita kelainan mata. Bola matanya tidak bisa melihat dengan normal saat diajak bertatap muka seperti anak yang lainnya.

Dalam dunia medis, kelainan mata yang dialami oleh Amel ( sapaan akrab Hilmalia, red) disebut dengan strabismus atau squint atau mata juling. Pada penglihatan normal, kedua mata akan tertuju pada suatu titik/objek yang menjadi pusat perhatian. Namun yang terjadi pada Amel adalah salah satu matanya bergulir/bergerak ke berlainan arah, maka akan ada dua gambar yang akan dikirim ke otak. “Saya cukup khawatir dengan kondisi anak saya,”. Ujar Ima ( sapaan akrab Mulimah, red )

Suhu badan naik
Ima menuturkan bahwa amel mulai menderita mata juling ketika suhu tubuh anaknya naik secara drastis. Akibatnya retina mata Amel mengalami pembengkakan, bahkan syaraf mata kanannyapun mengalami penyempitan. Sejak saat itu Ima berusaha untuk mencari pengobatan agar anaknya kembali bisa melihat normal.

Masih menurut Ima berbagai macam medis pun diupayakan oleh Ima demi kesembuhan putri kesayangannya tersebut. Akhirnya dokter yang memeriksa Amel menyarankan agar Amel segera dioprasi. Hanya saja Ima menolak anjuran tersebut lantaran ia takut terjadi hal – hal yang tidak diinginkan. “Saya takut operasi yang dilakukan tidak berjalan dengan lancer dan terjadi sesuatu pada anak saya,”. Ujar Siti.

Walaupun sedang menderita mata juling namun kegiatan Amel tak berkurang sedikitpun. Sepulang dari sekolah, Amel pun masih menjalani beberapa kegiatan diantaranya les berenang dan mengikuti modeling. Sebagai orang tua, Ima pun tidak bisa menolak keinginan putri kesayangannya tersebut. “Anak saya termasuk anak yang hiperaktif,” Ujar Siti.

Ima menambahkan terkadang dirinya merasa kasihan dengan putrinya tersebut, karena jika sudah kecapekan bola mata amel pasti membengkak. Jika sudah begitu yang bisa dilakukan hanyalah istirahat sambil tiduran. “Saya tak tega kalau bola mata anak saya sudah mulai membengkak. Jika sudah begitu ia hanya bisa menangis dan kesakitan,” Ujar Ima.

Sembuh Ditapping
Secercah harapanpun datang ketika berbincang – bincang dengan Hanik, kakak iparnya. Saat itu Ima diberitahu metode tapping yang dilakukan oleh SEFT. Awalnya pun Ima meragukannya, mengingat yang dilakukan hanyalah mengetuk – ngetuk ringan di beberapa titik bagian tubuh. “Awalnya saya tidak begitu yakin kalau Amel dapat disembuhkan dengan hanya mengetuk – ngetuk seperti itu,” Ujar Ima.

Pada bulan September 2009, Ima lantas mengikuti pelatihan yang diadakan oleh SEFT dikota Jember. Ia pun mendengarkan dengan seksama metode tapping pada Sembilan titik yang diajarkan oleh SEFT. Namun dirinya masih belum mampu untuk mempraktekkan metode tersebut dengan baik kepada putrinya.

“Saya bahkan datang langsung ke kantor pusat  SEFT di Surabaya demi kesembuhan putri saya ,” Ujar Ima. Sejak itupun Amel pun menjalani pengobatan secar rutin dan ternyata Amelpun tidak keberatan  menjalani pengobatan tersebut. Berangsur – angsur mata Amel dapat melihat secara Normal. Bahkan bola matanya tak lagi mengalami pembengkakan saat capek. Dengan banyaknya perubahan yang dialami oleh Amel membuat Ima semakin yakin kesembuhan putrinya. “Kini Amel sudah bisa melihat secara lurus saat diajak bicara walaupun terkadang bola matanya sesekali bergerak – gerak, “ Pungkas Ima.
]]>
<![CDATA[Terapi SEFT untuk Memuaskan Istri]]>Fri, 06 Sep 2013 14:42:43 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/terapi-seft-untuk-memuaskan-istri
Picture
Sudah banyak kita mendengar keefektipan terapi SEFT dalam menyembuhkan suatu penyakit ataupun ketakutan terhadap suatu hal. Namun kali ini Ahmad Saroni ( 29 ), salah satu SEFTer akan berbagi pengalamannya terkait terapi SEFT yang digunakannya sebelum berhubungan intim dengan istri.

Menurut Roni ( sapaan akrab, red ) sebelum dirinya mengikuti terapi SEFT untuk mencapai orgasme, tak ada sesuatu yang istimewa saat dirinya berhubungan intim dengan istrinya. Namun hal tersebut berubah semenjak dirinya mengetahui tehnik yang digunakan dalam mencapai orgasme. Hal itu dipelajari saat mengikuti training yang diselenggarakan oleh SEFT.“ Saya pelajari dengan seksama materi yang disampaikan waktu itu, “ ujar Roni.

Lakukan Meditasi
Menurut Roni masih banyak wanita di Indonesia yang sulit bahkan belum pernah mengalami orgasme. Bahkan hal tersebut dialami oleh setiap pasangan suami istri baik tua maupun yang muda.

“Tak jarang pula masalah orgasme menjadi pemicu ketidakharmonisan dalam rumah tangga,” ujar Roni. Masih menurut Roni , terdapat dua hal yang menyebabkan pasangan suami istri mengalami gangguan saat berhubungan intim baik masalah disfungsi ereksi maupun orgasme. Pertama, adalah masalah fisik lantaran penyakit yang diderita oleh pasangan suami istri. Kedua, faktor psikis dari setiap pasangan lantaran salah satu pasangan mengalami trauma, kecewa, atau bahkan si wanita takut terhadap suaminya.

Roni menambahkan, penyebabnya adalah sebelum menikah salah satu pasangan pernah mendapat cerita – cerita tidak benar tentang hubungan intim. Akibatnya salah satu pasangan menjadi takut dan tidak bisa menikmati hubungan dengan pasangannya. Terkadang salah satu pasangan berpura – pura orgasme untuk menyenangkan pasangannya.

“Oleh karna itu sebelum hubungan intim ada baiknya pasangan suami istri melakukan meditasi terlebih dahuluselama kurang lebih 10 menit,” ujar Roni. Meditasi tersebut bisa dilakukan bersama pasangan maupun sendiri – sendiri. Meditasi tersebut dimaksudkan untuk memberikan energi positif. Selain meditasi, sebelum berhubungan intim ada baiknya kalau suami istri melakukan senam ‘ kegel ’. Tak lupa pula melakukan tapping di 9-18 titik.

Lebih Harmonis
Kini rumah tangga Roni menjadi lebih harmonis  dan setiap kali melakukan hubungan intim, Roni pun selalu menerapkan meditasi. Meditasi tersebut dilakukannya bersama istri, sembari keduanya ingin merasakan kenikmatan saat berhubungan intim. Kemudian Roni melakukan gerakan – gerakan tapping di Sembilan titik bagian tubuh istrinya. “Tapping tersebut dilakukan untuk mengendalikan emosi,” ujar Roni.

Tak ada keinginan khusus saat Roni mengikuti Training SEFT terkait masalah orgasme. Hanya saja dirinya ingin merasakan sensasi yang berbeda saat berhubungan intim. Bahkan Roni juga sempat curhat kepada istrinya terkait hubungan intim sebelum mengikuti training. Harus ada keterbukaan dari masing – masing pasangan dalam melakukan meditasi jika ingin mencapai orgasme saat berhubungan intim.

“Sungguh luar biasa hasil yang saya dapatkan dan itu dilakukan hanya dengan mengetuk – ngetuk ringan di beberapa bagian tubuh. Namun tak lupa pula disertai dengan keikhlasan saat melakukannya,” pungkas Roni.
]]>
<![CDATA[Sifat Pemarah Hilang dengan Terapi SEFT]]>Fri, 06 Sep 2013 09:45:19 GMThttp://seft2020.weebly.com/testimoni/sifat-pemarah-hilang-dengan-terapi-seft
Picture
Memang seft terbukti mampu mengatasi segala permasalahan termasuk diantraranya adalah masalah emosi yang tidak bisa dikendalikan. Hal inilah yang dialami Hj. Nur Fadhilah, yang sehari-harinya aktif sebagai dosen fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel, Surabaya. wanita kelahiran 31 Januari 1958 ini berhasil menyelesaikan konflik emosi setelah mengikuti SEFT. Berikut penuturannya. 

Sebelum mengikuti training SEFT, sejak kecil saya termasuk orang yang sangat emosional dan mudah marah. Dalam menghadapi masalah sekecil apapun, saya lebih mengedepankan emosi. Sebenarnya, saya merasa sangat gelisah dengan keadaan ini. tetapi sepertinya saya tidak dapat mengendalikan diri.

Bahkan sebagai seorang dosen, dalam kegiatan belajar mengajar pun emosi saya sering muncul ketika melihat hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak hati. Salah satu hal yang biasanya saya gunakan untuk menghibur diri dengan menyatakan secara pribadi bahwa kondisi emosional ini dimungkinkan karena saya sebagai wanita. 

Meskipun hal itu tidak sepenuhnya benar, tetapi saya sering menggunakannya sebagai pembenaran atas tindakan-tindakan saya.

Hilang Rasa Cinta
Hal ini terus berlanjut dalam hidup saya. Ditambah dengan kondisi suami yang sakit-sakitan membuat saya semakin terasa terbebani dalam hidup. Tentu saja hal ini juga menjadikan diri saya semakin kurang bisa mengendalikan emosi. Bahkan perasaan cinta saya pada suami seperti hilang.

Pada suatu hari, saya diajak seorang teman untuk mengikuti training SEFT. Sejak awal saya tertarik dengan SEFT. Karena menurut penjelasan teman saya itu, salah satu teknik yang ada di dalam SEFT dapat diaplikasikan untuk mengatasi masalah fisik maupun emosi. Hal ini yang kemudian membuat saya mengikuti training SEFT.

Lebih konkrit, saya mengikuti training ini untuk mengembalikan rasa cinta saya kepada sang suami. Selain juga untuk dapat menghilangkan kondisi saya yang sangat mudah emosi. Sekitar april 2006, akhirnya saya dapat mengikuti training SEFT. Selama mengikuti training, saya merasa sangat terpesona dengan keseluruhan materi training. Sepertinya segala pertanyaan atas permasalahan yang saya hadapi terjawab sudah dalam training SEFT. Mulai dari masalah fisik, emosi, maupun spiritual.
    
Pusing Sembuh
Secara fisik, saya orangnya mudah sekali pusing. Secara emosi, seringkali mudah marah dan stres, secara spritualitas, saya merasa sulit sekali untuk ikhlas dalam menjalani segala aktivitas. Setelah mengikuti training SEFT secara tuntas, saya merasa tidak sabar untuk segera mempraktikkan teknik-teknik yang ada di dalamnya untuk mengatasi berbagai permasalahan saya. Hasilnya ternyata sangat mengejutrkan! Hampir semua permasalahan yang saya hadapi sepertinya menjadi tuntas dan dapat saya hadapi dengan baik. 

Ketika saya merasa pusing ataupun sakit fisik yang lain, saya tinggal melakukan terapi beberapa menit dan rasa pusing itu akan berangsur-angsur hilang. Dalam hal emosi, sekarang saya dapat mengembalikan rasa cinta pada suami, menjadi orang yang sangat ceria, sabar, tidak lagi mudah marah dan tidak juga mudah stress.

Secara spritual, alhamdulillah, sekarang saya dapat lebih ikhlas dalam melaksanakan aktivitas dan mensyukuri nikmat Allah yang saya terima. Hal inilah menurut satya adalah pencapaian yang sangat luar bioasa. Saya tidak lagi seperti dulu yang selalu mengharapkan pujian orang.

Salah satu materi dalam training SEFTR yang sangat ditekankan adalah blessing otherts. Setelah berhasil menguasai bebagai macam teknik SEFT, saya merasa lebih mudah dan leluasa untuk berbuat baik kepada orang lain. Hal ini juga saya lakukan dengan membantu orang lain yang sedang bermasalah untuk kembali bisa menjadi pribadi yang mulai dan bangkit dari keterpurukan. 

Salah satu orang yangs saya bantu, dalam hal ini adalah suami saya sendiri. Saya telah berhasil membantunya dari kebiasaan buruk merokok. Menurunkan kadar kekentalan dalam darahnya hingga menjadi normal kembali. Tabloid Nurani, edisi 464 tahun VIII
]]>